KESESUAIAN MODEL PEMBELAJARAN DENGAN KARAKTERISTIK SISWA
SD
Ismawati
IKIP PGRI Semarang
Email : icma_ikip@yahoo.co.id
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. ( UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang sisdiknas ).
Dalam pendidikan,
peran guru sangat penting. Guru harus melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
sebagai agen pembelajaran, memotivasi, memfasilitasi, mendidik, membimbing, dan
melatih siswa sehingga menjadi manusia berkualitas dan mampu mengaktualisasikan
potensi kemanusiaannya secara optimum.
Dalam
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab 1
pasal 1 (4) disebutkan bahwa Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada
jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Maka dari itu, perlu adanya
usaha yang berkesinambungan dalam rangka mengembangkan potensi siswa melalui
potensi yang sudah ada dengan mengoptimalkan proses pembelajaran sesuai jalur,
jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Model
pembelajaran yang tepat merupakan salah satu cara mengoptimalkan proses
pembelajaran. Model pembelajaran yang tepat ini disesuaikan dengan kondisi,
karakteristik dan kebutuhan dari siswa itu sendiri.
Karakteristik
siswa Sekolah Dasar berbeda dengan orang dewasa. Karakteristik yang tidak
terpenuhi akan membuat siswa merasa tidak senang dan tertekan. Disini guru harus
memahami karakteristik siswa.
Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk
yang unik. Mereka mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda-beda dan
beraneka ragam. Akan tetapi perbedaan itulah yang membuat warna-warna indah
dalam kehidupan. Seperti halnya juga dengan karakteristik siswa Sekolah Dasar
yang beraneka ragam.
Anak SD Senang Bermain. Bermain adalah hal
yang menyenangkan bagi siswa. Karakteristik ini menuntut guru SD
untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih
untuk kelas rendah.
Anak SD juga Senang Bergerak. Orang
dewasa dapat duduk berjam‐jam,
sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh
karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak
berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang
lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
Anak usia
SD Senang Bekerja dalam Kelompok. Anak usia SD dalam
pergaulannya dengan kelompok sebaya, mereka belajar aspek-aspek yang penting
dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok,
belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan,
belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara
sehat (sportif), mempelajarai olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar
dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi.
Anak SD
Senang Merasakan atau Melakukan/memperagakan Sesuatu Secara Langsung. Ditunjau
dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret.
Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru
dengan konsep‐konsep
lama. Berdasar pengalaman ini, siswa membentuk konsep‐konsep tentang angka,
ruang, waktu, fungsi‐fungsi
badan, peran jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan
guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan
sendiri, sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa.
Model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaran dan cara pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas
belajar mengajar.
Guru harus
pandai memilih model pembelajaran. Tidak semua model pembelajaran dapat
diterapkan pada semua jenjang. Model pembelajaran harus disesuaikan
dengan tuntutan kurikulum yang harus dicapai.Karena di setiap jenjang
pendidikan, siswa memiliki kebutuhan masing-masing.
Salah satu cara memenuhi kebutuhan siswa
adalah dengan model pembelajaran yang tepat. Guru SD seharusnya merancang model
pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru
hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan
jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti
IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti
pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).
Guru juga harus merancang model
pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok.
Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3‐4 orang untuk mempelajari
atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
Selain itu, Guru hendaknya merancang
model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses
pembelajaran. Sebagai contoh, anak akan lebih memahami tentang air mengalir
dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah , dengan langsung mengalirkan
air dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Dengan model pembelajaran yang sesuai
karakteristik siswa, siswa akan merasakan suasana yang menyenangkan dan
kebutuhannya tercukupi.